Yogyakarta - Sembilan puluh delapan tahun lalu, di sebuah rumah di Jalan Kramat Raya 106, sekelompok anak muda yang bahkan belum memiliki negara, berani bersumpah atas nama negara yang belum lahir. Itulah keajaiban Sumpah Pemuda 1928. Keberanian untuk membayangkan Indonesia.
Hari ini, 28 Oktober 2026, kita memperingati Sumpah Pemuda ke-98 dalam situasi yang paradoks. Kita sudah memiliki Indonesia, lengkap dengan ibu kota baru dan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, tapi imajinasi tentang keindonesiaan kita justru yang mulai retak.
Refleksi tahun ini tidak bisa hanya seremonial. Kita harus jujur mengakui permasalahan bangsa yang membuat sumpah itu terasa berat untuk diucapkan kembali.
Bangsa yang Lelah
Kita adalah bangsa yang lelah, dalam tiga arti.
Pertama, lelah secara ekologis. Tanah tumpah darah kita sedang sakit. Karhutla yang kembali setiap kemarau, banjir rob di pesisir utara Jawa, dan krisis pangan yang membuat harga beras tidak stabil adalah alarm bahwa relasi kita dengan alam sudah eksploitatif.
Kedua, lelah secara sosial-ekonomi. Badan Pusat Statistik mencatat hampir 10 juta Gen Z masuk kategori NEET (Not in Employment, Education, or Training). Kita memuji bonus demografi, tapi di lapangan banyak pemuda yang merasa masa depannya tidak secerah slide presentasi pemerintah. Di saat yang sama, indeks persepsi korupsi kita stagnan, membuat banyak anak muda sinis: untuk apa berjuang jika jalannya masih bisa dibeli?
Ketiga, dan yang paling berbahaya, lelah secara persatuan. Kita mengaku Berbangsa Satu, tetapi kita mudah untuk dipecah belah, terlalu mudah untuk menempelkan label, “tidak cinta tanah air”, “pro pihak asing”, “pihak sakit hati kalah Pemilu” kepada orang-orang-orang yang cinta bangsa dan tanah, orang-orang yang memiliki kepedulian dan keprihatinan terhadap permasalahan bangsa. Ruang publik dan algoritma digital kita terbelah secara tajam, perbedaan cara pandang dianggap permusuhan bukan sebagai kekuatan. Bhinneka Tunggal Ika kita hafal di luar kepala, tapi Bhinneka-nya sering kita rayakan, Tunggal Ika-nya sering kita lupakan.
Tiga Sumpah yang Harus Ditafsir Ulang
Jika konteksnya berubah, maka tafsir atas Sumpah Pemuda pun harus diperbarui.
1. Bertumpah Darah yang Satu: Dari Nasionalisme Simbolik ke Nasionalisme Ekologis dan Adil.
Cinta Tanah Air hari ini tidak cukup dengan upacara. Maknanya adalah keberanian menjaga tanah itu sendiri. Pemuda yang bertumpah darah satu adalah pemuda yang menolak melihat hutan dibabat tanpa rehabilitasi, menolak membuang sampah ke sungai, dan berani bersuara ketika pembangunan hanya menguntungkan segelintir orang. Sumpah pertama adalah sumpah keadilan ekologis dan sosial.
2. Berbangsa yang Satu: Dari Toleransi Pasif ke Kolaborasi Aktif.
Dulu toleransi artinya tidak berkelahi. Hari ini tidak cukup. Di tengah polarisasi, tugas pemuda bukan hanya "membiarkan yang lain ada", tapi aktif berkolaborasi. Inilah esensi Pencak Silat yang mengajarkan _saling menghormati_ - kita bisa berbeda aliran, tapi tetap dalam satu gelanggang persaudaraan. Bangsa yang satu berarti anak Jakarta mau belajar masalah petani di NTT, santri dan pendeta duduk bersama menyelesaikan masalah stunting, bukan saling sindir di kolom komentar.
3. Berbahasa Satu, Bahasa Indonesia: Dari Alat Komunikasi ke Alat Berpikir Kritis.
Bahasa Indonesia adalah prestasi terbesar pemuda 1928. Ia berhasil menyatukan 700 bahasa daerah. Tantangan ke-98 adalah menyelamatkannya dari dua degradasi: pendangkalan literasi dan kekasaran etika. Kita adalah bangsa yang paling lama menghabiskan waktu di layar ponsel, tapi salah satu yang terendah dalam minat baca mendalam. Kita fasih berkomentar, tapi malas memverifikasi. Merawat Bahasa Indonesia hari ini berarti merawat nalar, merawat literasi, dan mengembalikan adab dalam berdebat.
Penutup: Keberanian Merawat
Pemuda 1928 berani bersumpah karena mereka optimis. Pemuda 2026 harus berani merawat karena kita pesimis, dan tetap memilih tinggal dan memperbaiki.
Jika Sumpah Pemuda pertama adalah tentang MENYATUKAN Indonesia yang belum ada, maka Sumpah Pemuda ke-98 adalah tentang MERAWAT Indonesia yang sudah ada tapi sedang lelah, lelah karena keadaan, lelah karena ulah sebagian orang, lelah karena kebijakan yang tidak berorientasi pada kemajuan dan masa depan.
Jangan biarkan obor itu padam di tangan kita. Dua tahun lagi kita akan merayakan 100 tahun Sumpah Pemuda. Sejarah akan mencatat: di tahun ke-98 yang penuh guncangan ini, apakah kita hanya menjadi penonton, atau menjadi pemuda yang kembali berani bersumpah, berusaha dan bekerja untuk kebaikan bangsa!
Dirgahayu Pemuda Indonesia.
Bima Sinung Widagdo
